Mengapa Orang Indonesia Malas Membaca?

“Sebab Masyarakat Kita Sudah Terlampau Pandai Dalam Kebodohannya”

Begitulah kiranya gambaran penulis soal malasnya negara dengan jumlah 247 juta penduduk ini dalam hal membaca. Sebuah aktivitas paling sederhana dan tidak berbayar, malah menjadi hal yang paling tidak diminati.

Hal itu dibuktikan lewat UNESCO pada 2016 merilis data bahwa hanya ada 1 dari 1000 orang yang memiliki minat untuk membaca. Masih di tahun yang sama, OECD (Organization for Economic Co-Operation Development) lewat programnya yakni PISA (Programme for International Student Assesment) menyebut bahwa negara Indonesia berada pada urutan ke-44 dalam hal minat baca dari 61 negara, kalah dari Peru yang berada satu peringkat di atasnya dan hanya unggul dari negara-negara ‘medioker’ seperti Tunisia, Republik Dominika, dan Lebanon. Bahkan untuk sesama negara ASEAN, Indonesia tertinggal jauh dari Vietnam yang ada di urutan ke-8.

Lalu, bagaimana bisa orang Indonesia malas untuk membaca? Mari kita bedah satu persatu.

Learn by Experience (belajar dari pengalaman)
Orang Indonesia dalam menanggapi sesuatu hal, lebih suka menggunakan pengalamannya ataupun pengalaman orang lain sebagai pijakan mereka untuk berpendapat. Budaya ‘katanya’ masih melekat dalam diri mereka.

Lihat saja bagaimana masyarakat kita dalam menanggapi gejala alam seperti gempa atau banjir. Ketimbang menganggap itu merupakan faktor kerusakan lingkungan dari analisa yang di dapat lewat buku, atau artikel, mereka cenderung menganggap itu sebagai musibah dari Tuhan yang kesal pada umatnya. Informasi itu mereka dapat dari ‘kata orang tua’ atau berdasar pengalaman mereka melihat selama tinggal di tempat yang terkena bencana tersebut, sebelumnya belum pernah terjadi.

Jiwa sosial yang tinggi
Apa hubungannya dengan malas membaca? Masyarakat +62 (sebutan slang untuk orang Indonesia) ini adalah tipe yang sering bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mereka lebih senang untuk berbincang-bincang sampai larut malam untuk sekadar menghilangkan rasa jenuh. Sedangkan ketika membaca buku, mereka hanya berkutat dengan satu objek yakni buku, sehingga pola interaksi menjadi tidak ada. Agak aneh memang, namun sepertinya ini hanyalah dalih mereka saja.

Oral Culture (budaya lisan)
Orang Indonesia lebih senang berbicara ketimbang membaca atau menulis. Sebab bicara lebih praktis, tanpa harus berfikir. Uniknya mereka berbicara tanpa dasar yang jelas. Lihat saja acara-acara talkshow hiburan di televisi seperti gosip yang hanya cuap-cuap saja.

Membaca adalah pekerjaan elit
Stigma ini sudah tertanam dalam alam bawah sadar orang Indonesia. Mengingat di masa pra kemerdekaan, hampir sebagian besar masyakarat hidup dalam perekonomian amat rendah, dan angka buta huruf yang menyentuh angka 90%. Hanya kalangan bangsawan saja yang bersekolah. Sehingga wajar saja jika stigma tersebut tertanam, meskipun di jaman modern saat ini, hal itu semestinya sudah tidak boleh ada.

Sistem pendidikan di Indonesia
Sejak era 50-an, negara ini sudah tidak mewajibkan para pelajarnya untuk membaca buku. Saat negara ini sudah merdeka, budaya buku malah dipotong habis karena dianggap tidak efektif. Puncaknya pada akhir 60-an saat peristiwa G/30S, buku-buku dibredel dari peredaran oleh pemerintah saat itu. Saking parahnya, Taufik Ismail menyindir kondisi saat itu dengan sebutan “Generasi Nol Buku”, yakni generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang.

Manfaat membaca tidak bisa langsung dirasakan
Jika kita adalah mahasiswa jurusan ekonomi, lalu kita membaca soal buku-buku filsafat, dirasa tidak nyambung dan tidak bermanfaat. Sebab yang kita baca berbeda dengan yang sedang dipelajari. Padahal filsafat adalah akar dari pelbagai ilmu pengetahuan. Ditambah lagi, mereka menginginkan pengetahuan secara instan, yakni diberi tahu oleh pengajar. Padahal dalam belajar, poinnya terletak pada proses bukan pada hasil.

Kiranya itulah beberapa penyebab orang Indonesia malas untuk membaca, akan tetapi, saat ini, rasanya tidak ada satupun alasan bagi kita untuk malas membaca buku. Sudah saatnya negara ini mengubah segala kebiasaan buruk tersebut. Belajar untuk tidak membenarkan kebiasaan, melainkan membiasakan yang benar. Lalu kita pun nampaknya lupa akan satu hal mendasar, bahwa membaca adalah perintah pertama Tuhan, lebih awal ketimbang sembahyang.

Jadi, kapan kamu mau mulai membaca sobat?

Penulis : Nana Ariadi Arifin