Implementasi Pancasila Menjadi Jalan Tengah Menyatukan Keberagaman di Indonesia

Saksimata.co – Depok – Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia merupakan seperangkat nilai yang menjadi pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Konsensus para pendiri negara tersebut berangkat dari sebuah paham kebangsaan yang terbentuk dari kesamaan nasib, sepenanggungan, dan sejarah serta adanya cita bersama untuk menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dalam sebuah negara kesatuan. Maka harapannya adalah kita bisa memahami implementasi dari sila yang ada di dalam Pancasila.

Adanya prinsip bersatu dalam perbedaan membuat Pancasila menjadi semakin kuat dan layak sebagai sebuah ideologi bagi negara Indonesia yang khas dengan keanekaragamannya. Konsep persatuan yang ideal dengan mengkondisikan setiap warga negara hidup berdampingan dan gotong royong tanpa menghilangkan identitas suku bangsa, adat istiadat, ras, ataupun agama.

Sejak disahkan sebagai dasar negara, 18 Agustus 1945, Pancasila mampu membawa Indonesia sebagai negara berdaulat dan mampu mengatasi berbagai macam cobaan sampai sekarang. Selain itu, Pancasila juga mampu menjadi perekat persatuan bangsa dibawah panji Bhinneka Tunggal Ika, juga fleksibel menjawab tantangan jaman.

“Pancasila itu sudah final sebagai ideologi dan jalan hidup berbangsa dan bernegara, serta sudah diterima sebagai jalan tengah menyatukan berbagai keragaman di Indonesia, baik saat baru merdeka sampai di era milenial sekarang ini,” ujar pengamat kebangsaan, Halida Hatta, yang juga merupakan anak proklamator kemerdekaan RI, Mohammad Hatta, saat menghadiri seminar Kebangsaan, dengan tema” Pancasila Dalam Pusaran Idelogi Dunia: Tantangan NKRI Lima Tahun Ke Depan”, Jumat (18/10/2019).

Dalam konteks bernegara lanjutnya, Pancasila sudah tidak bisa diganggu gugat dengan demikian kalau ada pihak yang mengganggu keberadaan Pancasila atau bahkan anti Pancasila, maka itu pasti melanggar konstitusi negara, melanggar perundang-undangan, sebab Pancasila sudah masuk dalam konstitusi yaitu dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, ungkap Halida.

Menurutnya, pemantapan paham Pancasila sangat dibutuhkan di kalangan anak muda dalam menghadapi era keterbukaan dan digitalisasi seperti saat ini. Jaringan internet dan media sosial menjadi salah satu faktor yang paling rawan dalam penyebaran paham dan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.

( AS’AD )