Nur Mahmudi Isma’il: SORGUM, Sumber Pangan Kebugaran dan Alternatif di masa Pandemi Covid-19

Saksimata.co – Depok (13-05) – Nur Mahmudi Isma’il, Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan, Kementan R.I dan Peneliti Utama Kebijakan Pangan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) sekaligus Walikota Depok 2006-2016 disambangi Heri Blangkon, Tokoh Pegiat Tanaman Pangan Lokal, di kediamannya Perumahan Griya Tugu Asri Cimanggis Depok.

Selain silaturahim karena sebagai sesama pemerhati pangan lokal juga saling berbagi pengalaman agar Indonesia segera bangkit mewujudkan Kedaulatan, Ketahanan dan Kemandirian pangan.

Pengertian pemahaman ketahanan pangan tidak harus selalu berbasis beras dan terigu yang akhirnya harus impor beras dan terigu. Masih banyak Pangan Sehat Lokal yang seperti sorgum, jagung, sagu, ubi jalar, singkong, gembili dan lain lain yang perlu ditingkatkan konsumsinya oleh masyarakat, sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor beras dan terigu.

Wujud seperti Beras, cara tanam seperti Jagung, nilai gizi lebih baik dari Beras serta Glikemik Indeks yang rendah, membuat Sorgum menjadi jawaban Indonesia untuk mewujudkan Kemandirian Pangan yang Sehat dan Mensejahterakan.

Ditengah Pandemi Covid-19, masyarakat perlu meningkatkan imunitas dan kesehatan serta dibatasi beberapa jenis aktivitas, Sorgum mudah dibudidayakan dan efektif untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan, ujar Pakar Pangan Nasional, Nur Mahmudi.

Setelah memahami keunggulan Sorgum, Heri Blangkon bertekad untuk menjadikan momentum WFH dan PSBB untuk kembali menggiatkan budaya pangan nusantara, terutama mengenal dan mengkonsumsi Nasi sorgum dan aneka produk olahannya.

Pada kesempatan ini Nur Mahmudi serahkan benih sorgum varietas PAHAT dan SAMURAI 1 hasil inovasi BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) kepada Heri Blangkon di saksikan Sutrisno, pengurus KTNA Kota Depok.

Perlu diketahui sorgum PAHAT, tinggi 147 cm, usia panen 89 hari dg produktivitas rata-rata 5,8 Ton/Ha dan potensi produksi sebesar 7,4 Ton/Ha.

Sementara sorgum SAMURAI 1, tinggi 187 cm, usia panen 111 hari dg produktivitas rata-rata 6,1 Ton/Ha dan potensi produksi mencapai 7,5 Ton/Ha.

Saya akan tanam di Setu pengasinan, bukan ingin kaya dari sorgum, tapi ingin lebih sehat, lebih bugar, lebih kuat daya tahan tubuh saya, serta mumpung saya belum kena diabetes, dengan mengkonsumsi sorgum insya Alloh saya tidak kena diabetes, ujar Heri Blangkon.

Ruang Terbuka Hijau Kota Depok kan masih kecil, masih jauh dari ketentuan amanah UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, sebesar 30% dari luas Depok sebesar 20 ribu hektar. Sorgum sangat mungkin ditanam diseluruh areal sawah (yg sulit irigasi, bukan menggeser areal tanam padi), ladang dan kebun serta lahan terlantar di Depok, sehingga RTH Depok berkontribusi menyediakan sebagian kebutuhan pangan warganya.

Sebelum pamitan, Heri Blangkon menyerahkan sayur-sayuran hasil kebunnya kepada Bpk Nur Mahmudi. Sambil mengantarkan Heri Blangkon ke depan rumah, Nur Mahmudi menceritakan bahwa pada hari yang sama Benih Sorgum PAHAT juga dikirim kepada Ayong Herdiyansah, Ketua BUMDES Purwabakti, Bogor dan Susilo Hartoko, Sumedang.

 

(Red/CM)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*