Merdeka Belajar episode keenam terobosan akselerasi Kampus Merdeka

Saksimata.co – Jakarta – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan program Merdeka Belajar episode keenam merupakan terobosan baru yang bertujuan untuk mengakselerasi program-program Kampus Merdeka di perguruan tinggi.

“Program ini memiliki tiga esensi yakni insentif berdasarkan delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), mengakselerasi perguruan tinggi dan industri maka diluncurkan pendanaan matching fund dan competitive fund untuk mendorong perguruan tinggi melakukan transformasi baik kurikulum dan pembelajaran yang berfokus pada sumber daya manusia yang unggul,” ujar Nizam dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Nizam berharap program-program tersebut dapat mengakselerasi perguruan tinggi untuk lebih siap, lebih fleksibel, dan lebih adaptif untuk menghadapi tantangan di masa depan.

“Indikator kinerja utama saat dahulu sangat banyak, sehingga sekarang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan arahan untuk memangkasnya menjadi delapan indikator kinerja utama dengan tujuan memudahkan tercapainya sasaran,” tambah dia.

Nizam menjelaskan delapan IKU yang menjadi tugas utama bagi perguruan tinggi adalah mendidik mahasiswa agar mereka menjadi sarjana yang bisa produktif, membuat mahasiswa beradaptasi dengan cepat untuk masuk ke dunia kerja, memperbanyak dosen berinteraksi dan berhubungan dengan industri, kemudian memperbanyak profesional dunia kerja yang ikut mendidik menyiapkan mahasiswa di dalam kampus.

Hal itu bertujuan agar terjadinya perkawinan silang antara perguruan tinggi dan dunia kerja.

Lebih lanjut Nizam memaparkan bahwa karya dosen harus bisa dimanfaatkan di masyarakat agar bisa meningkatkan ekonomi bangsa serta meningkatkan teknologi.

Kurikulum juga dinilai dari seberapa banyak perguruan tinggi bekerja sama dengan mitra-mitra berkelas dunia. Selanjutnya, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori tetapi juga diajarkan bagaimana problem solving di dunia kerja, dan yang terakhir adalah program studi yang diakreditasi secara internasional atau tersertifikasi oleh lembaga-lembaga yang memiliki lisensi.

“Perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi negeri memiliki sumber pendanaan pemerintah pada biaya operasional APBN. Oleh karena itu, pemberian insentif berdasarkan delapan IKU yang tercapai dan bahkan terlampaui akan diberikan tambahan alokasi untuk APBN dan akan mulai dilakukan pada 2021,” pungkas Nizam.

Baca juga: Kemendikbud : Pandemi ajang mahasiswa menjadi pembelajar

Rektor Universitas Sebelas Maret, Jamal Wiwoho mengaku sangat mengapresiasi peningkatan anggaran untuk PTN dan PTS di tahun 2021 yang terbilang cukup signifikan yakni sebesar Rp4,9 triliun rupiah dibandingkan pada 2020 yang hanya sebesar Rp2,9 triliun.

Kenaikan tersebut kemudian dibagi untuk disalurkan pada tiga terobosan, yaitu matching fund (dana penyeimbang kontribusi mitra) sebesar Rp250 miliar, competitive fund (dana pemilihan program kompetisi Kampus Merdeka) sebesar Rp500 miliar, dan alokasi insentif biaya operasional atau bantuan pendanaan bagi PTN dengan capaian IKU yang baik sebesar Rp1,3 triliun.

“Perguruan tinggi menyambut gembira adanya tiga terobosan ini karena diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan tentu apa yang disebut dengan pengangguran tak kentara atau pengangguran intelektual dapat ditekan. Dengan adanya delapan IKU ini yang diperas menjadi tiga (kualitas lulusan, kualitas kurikulum, dan kualitas dosen serta tenaga pengajar) rasanya mudah secara kuantitatif bisa dibentangkan terkait mau dibawa kemana perguruan tinggi di Indonesia dan lulusan-lulusannya. Peningkatan pendanaan juga bisa membuat perguruan tinggi berlari cepat dalam menyelaraskan diri antara kampus dengan industri,” harap Jamal.

Jamal menjelaskan anggaran pendidikan tinggi di Indonesia selama ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan tinggi di luar negeri. Keterbatasan anggaran berakibat pada mutu pendidikan yang dapat dilihat dari akreditasi masing-masing perguruan tinggi sebagai parameter mutu pendidikan tinggi.

(Antr/SM)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*