Kembalikan muruah emak-emak

Saksimata.co – Jakarta – Emak-emak adalah kata yang populer digunakan publik akhir-akhir ini untuk menunjukkan sosok ‘perempuan yang kurang “intelektual”, namun ingin memiliki kedigdayaan di atas laki-laki.

Bagaimana pun, kata emak-emak tidak akan pernah digunakan untuk menyebut perempuan yang intelek.

Bahkan, seorang Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pun, bisa jadi dikonotasikan tidak intelek oleh publik jika diembel-embeli dengan sebutan emak-emak.

Perempuan memang kerap mendapat stigma gender yang negatif dari publik. Entah mengapa, sulit ketika mendudukkan perempuan sama rata dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki.

Sehingga para perempuan, terpaksa harus melalui “saluran belakang” untuk mereduksi opini “menyesatkan” itu.

Mungkin, karena perempuan bertindak untuk memuaskan perasaan lawan berbicara mereka saja. Kita tidak akan pernah mendengar orang tertawa ketika ada yang menyebut kata Bapak-Bapak, misalnya.

Alih-alih tertawa seperti ketika menyebut kata emak-emak, kebanyakan orang akan mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti apa yang harus ditertawakan saat disebut kata Bapak-Bapak.

“Bahasa suatu budaya tertentu tidak melayani semua penutur-nya secara setara, karena tidak semua penutur berkontribusi dengan cara yang sama pada perumusannya. Perempuan (dan anggota kelompok non-dominan lainnya) tidak sebebas atau semampu laki-laki untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, kapan dan di mana mereka mau, karena kata-kata dan norma penggunaannya telah dirumuskan oleh kelompok dominan, laki-laki,” kata Kramarae, dikutip dari A First Look – Griffin, halaman 481.

“Bias leksikal” selalu ada dalam bahasa publik, baik di dalam kartun, metafora, istilah untuk ucapan wanita, istilah untuk aktivitas seksual, dan lain-lain.

Para lelaki yang membentuk kosakata publik untuk mencerminkan pengalaman dan persepsi yang berorientasi pada laki-laki.

Itu sebabnya, wanita juga harus menggunakan sistem yang berorientasi “kelaki-lakian” itu di depan umum.

“Media yang dikontrol dengan baik membentuk wacana dominan pada hari itu membingkai interpretasi peristiwa. Mereka memberikan mitos penuntun yang membentuk persepsi kita tentang dunia dan berfungsi sebagai sarana kontrol sosial” – A First Look – Griffin, halaman 495.

Intensitas

Berapa banyak tayangan di televisi yang menginterpretasikan emak-emak yang pernah anda lihat? Saya yakin berita tentang emak-emak menaiki motor dengan lampu sein berbeda arah adalah salah satunya.

Lalu, apakah tidak ada laki-laki yang menaiki motor dengan cara demikian? Kalau anda jawab tidak juga, berarti kita sependapat dengan Cheris Kramarae, guru besar komunikasi di Universitas Illinois, Amerika Serikat bahwa secara teori, perempuan adalah kelompok yang terbungkam (muted group).

Kembali pada frasa “emak-emak naik motor” tadi, masih bisa diganti dengan “orang naik motor”, misalnya.

Bisa saja, tapi media massa dan mungkin juga kebanyakan orang lebih suka mengatakan “emak-emak naik motor” daripada “orang naik motor”. Terasa lebih pas di telinga untuk dipergunjingkan, bukan?

Sebetulnya tidak ada yang berfaedah dari berita tersebut selain untuk dipergunjingkan. Jadi, menurut saya, memang ada keinginan dari si pembuat berita untuk mendiskreditkan perempuan dengan mengangkat peristiwa kekeliruan tersebut.

Padahal kekeliruan itu biasa saja, dan tidak harus diperankan oleh perempuan juga. Ini dia permasalahannya, sebab seringkali perilaku keliru dari kelompok laki-laki yang seperti itu tidak populer.

Bisa juga ini berkaitan dengan intensitas, lebih banyak “emak-emak” daripada “bapak-bapak” yang nyalakan lampu sein tidak sesuai dengan arah/belok dituju.

Teori kelompok terbungkam ini memungkinkan kita untuk memahami bahwa kelompok manapun bisa dibungkam karena suara mereka tidak populer di publik atau media massa.

Jadi ketika kelompok itu tidak ingin bungkam, maka terpaksa mereka harus memakai bahasa komunikasi yang populer dan dimengerti oleh orang kebanyakan.

Pada akhirnya, perempuan pun kerap memakai “emak-emak naik motor”, daripada ‘orang naik motor’. Karena mereka kurang terwakili di media, buku teks, dunia maya, dan lain-lain.

Kramarae menemukan bahwa dominasi pria dalam masyarakat menjamin bahwa mode ekspresi publik tidak tersedia secara langsung untuk wanita.

Ekspresi publik itu terjadi seiring dengan banyaknya peristiwa-peristiwa yang melegitimasi pengalaman-pengalaman laki-laki, sedangkan tidak ada peristiwa yang melegitimasi pengalaman-pengalaman itu dari sisi yang lain.

Untuk meminimalkan bias itu, Kramarae ingin siapa pun yang ingin menentang sejumlah praktik yang sudah mapan itu untuk melihat kenyataan adanya perlakuan tidak sama tersebut.

Peran feminis, kata dia, bisa digunakan siapa saja dan tidak terbatas pada jenis kelamin perempuan. Menurut Kramarae, seorang feminis adalah mereka yang hati-hati memilih kata-kata mereka di forum publik.

Sebagai contoh, ketika Susi Pudjiastuti dikatakan keliru melarang budi daya lobster oleh adik Menteri Pertahanan Hashim Djojohadikusumo. Respons hati-hati diberikan Susi, ia tidak meledak-ledak karena tentu konotasi “emak-emak” bisa saja membayangi dirinya nanti.

Susi memilih untuk mempersilakan “lawannya” untuk membuktikan dimana letak kekeliruan tersebut dengan cara meminta informasi lengkap soal nama nelayan yang pernah ditangkap selama dirinya menjabat.

Jika benar yang dituduhkan, tentu lawan bicaranya dan kuasa hukumnya akan merespons pernyataan tersebut dengan bukti-bukti yang lengkap.

Namun, sampai hari ini, Hotman Paris Hutapea selaku kuasa hukum Hashim belum memberi komentar apa-apa.

Di sisi lain, untuk pria dan wanita yang bersedia mendengar apa yang dikatakan Kramarae, peningkatan kesadaran yang dipupuk oleh teori kelompok terbungkam itu dapat mendorong untuk berhenti menggunakan kata-kata yang tidak adil.

Di dalam kamus feminis, kata atau kalimat yang menyinggung jati diri dan rasa keadilan perempuan tidak boleh diungkit lagi ke publik.

Karena penting memberikan ruang kesetaraan bagi perempuan-perempuan ini untuk bergerak, menjadi pemimpin dan melakukan perubahan.

Dengan cara demikian, maka emak-emak yang notabene adalah madrasah pertamanya generasi mendatang diharapkan kelak bisa mengembalikan muruah mereka.

Meski bapak-bapak mungkin juga tidak sengaja mendominasi atau berniat menggunakan kekuasaan mereka untuk menindas.

Namun, belakangan kata emak-emak naik kelas dan bukan berkonotasi merendahkan intelektual perempuan semata, bahkan malah sebaliknya. Setidaknya ini berlaku di kalangan jurnalis di Jatim, khususnya Surabaya.

Tri Rismaharini karib dengan sapaan Risma, Wali Kota Surabaya yang syarat prestasi, baik tingkat nasional maupun internasional, tampaknya tidak keberatan dengan sebutan “Emak Risma”.

Begitu juga Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, yang juga mantan Mensos, sering kali disapa para jurnalis yang mencari untuk wawancara. “Emaknya ono? (ada-red)”.

Oleh : Abdu Faisal (Antr)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*